Headline News

Bandung Raya

Nasional

Hot News

Selasa, 13 April 2021

Dinsos Kota Bandung Petakan Target Penjangkauan PPKS

BANDUNG - Dinas Sosial (Dinsos) Kota Bandung menyiagakan tim untuk mengantisipasi masalah Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) yang jumlahnya diprediksi meningkat pada Ramadan ini. Terlebih kini muncul tren baru pemicu bertambahnya PPKS.

Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinsos Kota Bandung, Dadang Aziz Salim mengungkapkan, dari hasil penjangkauan beberapa waktu lalu ada tren baru yang mendorong PKKS turun ke jalan. Mereka menjadi gelandangan dan pengemis (gepeng) ini lantaran baru saja terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

"Kalau dari hasil penjangkauan kemarin, itu karena PHK. Karena tidak kerja, kemudian coba-coba ikut temannya yang dijalanan. Mungkin banyak masyarakat yang bantu di jalanan ya jadi semakin betah," ucap Dadang di Balai Kota Bandung, Selasa, 13 April 2021.

Dadang mengaku telah berkoordinasi dengan sejumlah pihak untuk bisa bekerja sama dengan tim dari Unit Social Respon (USR) guna menyasar sejumlah lokasi. Seperti di seperti tempat ibadah, tempat perbelanjaan, dan di persimpangan jalan.

"Saat Ramadan dan lebaran, kami sudah memetakan mungkin awalnya dari masjid-masjid dulu. Karena memang kebanyakan di pelataran. Mudah-mudahan oleh USR bisa mengatasinya," katanya.

Guna memudahkan penjangkauan, Dadang menyatakan pihaknya sudah membuat pemetaan potensi rawan timbulnya PPKS selama Ramadan ini. Area potensi PPKS ini diklasifikasikan ke dalam tiga zona yaitu zona merah, kuning dan hijau.

"Kalau merah itu rawan. Kuning masih bisa diatasi. Hijau itu lebih tidak memgganggu ke pengguna jalan," ujarnya. 

Dadang menyebutkan salah satu zona merah yang paling rawan di Kota Bandung berada di kawasan Pasir Koja. 
Menurutnya, PPKS di wilayah tersebut justru dihimpun dan memiliki koordinator yang memimpin di area tersebut.

Menurut Dadang PPKS di lokasi tersebut kerap melawan ketika dilakukan penjangkauan. Sedangkan tim USR Dinsos tidak bisa melakukan tindakan tegas karena tetap mengedepankan upaya persuasif.

"Titik merah yang rawan itu seperti di Pasir Koja itu susah karena ada yang 'pegang'. Jadi ada yang mengoordinir. Di sana itu mereka bisa sampai ketok-ketok pintu (kendaraan). Sulit juga dijangkau penertiban," jelasnya.

"Kebanyakan mereka itu melawan saat dilakukan penjangkauan. Tapi karena kami namanya juga sosial jadi tidak bisa lebih keras lagi. Makanya cukup sulit. Jadi ya kita kerja sama dan meminta bantuan Satpol PP atau aparat terkait lainnya," tambahnya.

Dadang tidak memungkiri apabila pada Ramadan ini tim USR Dinsos Kota Bandung kerap kewalahan melakukan penjangkauan. Sehingga membutuhkan kerja sama dengan berbagai pihak baik instansi pemerintah, lembaga swasta ataupun masyarakat.

"Kami keterbatasan sarana dan prasarana dan SDM. Karena keterbatasan anggaran, jadi kami hanya bisa merekrut 30 orang," terangnya.

Dadang menuturkan, pihaknya juga bekerja sama dengan Dinas Kesehatan. Karena khusus di tengah pandemi Covid-19 ini ada tambahan penanganan masalah penanganan virus. 

Ia bersyukur hingga saat ini belum terdata ada PPKS yang positif terpapar Covid-19.

Mengingat kondisi dan situasi yang masih berada di tengah pandemi, Dadang juga menyebutkan penanganan PPKS ini akan lebih banyak pada penghalauan. Terlbih, sebagian besar PPKS justru berasal dari luar Kota Bandung. 

"Lebih banyak dihalau dan tidak dibawa ke dinsos. Karena berkaitan pandemi harus berhari-hati. Kalau dari pendataan terakhir, kebanyakan itu dari luar. Ya wilayah sekitar Jawa Barat," katanya.

Masuk Bulan Ramadan, Kebutuhan Pokok Masyarakat di Bandung Stabil

BANDUNG - Hari pertama puasa Ramadan 1442 H, harga dan stok kebutuhan pokok masyarakat di Kota Bandung relatif stabil. Ada beberapa bahan pokok yang mengalami kenaikan harga, namun hal tersebut dinilai wajar karena momentum bulan Ramadan. 

Hal tersebut diungkapkan Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Muhammad Lutfi di sela-sela menijau Pasar Sederhana. Sebelumnya, ia juga sempat meninjau Pasar Kosambi, Selasa 13 April 2021.

"Kita bisa lihat secara keseluruhan harga barang pokok dan penting ini sebenarnya stabil," ujarnya usai meninjau harga kebutuhan pokok di Pasar Kosambi.

Berdasarkan pemantauannya, harga kebutuhan pokok yang stabil di antaranya gula dan beras jenis premium dan medium. Bahkan harga beras di Kota Bandung lebih rendah dibandingkan harga eceran nasional.

Sejumlah komoditas juga mengalami penurunan harga. 

"Untuk cabai rawit merah tadi sudah turun di angka Rp 80.000 per kilogramnya dan cabai merah juga turun sekitar Rp70.000," ungkapnya.

Ia pun memastikan akan terus memantau harga kebutuhan pokok masyarakat selama Ramadan. Hal itu agar stok tetap terjaga dan harganya stabil.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Bandung, Yana Mulyana juga memastikan harga kebutuhan pokok di Kota Bandung relatif stabil.

Hal itu ia ungkapkan saat mendampingi Menteri Perdagangan, Muhammad Luthfi dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

"Di awal puasa ada beberapa komoditas yang siklus kebiasaannya naik, seperti ayam, daging dan telor," ujar Yana. 

Sedangkan untuk kenaikan harga minyak goreng, Yana mengungkapkan, pemerintah pusat akan segera mengintervensi untuk menurunkan harganya.

"Tadi menurut pak menteri ada komoditas yang agak naik juga, minyak curah dan gula. Karena itu kewenangannya Kementerian Perdagangan, kemungkinan minggu ini pasokannya akan diperbanyak. Mudah-mudahan harganya jadi turun," kata Yana.

Menurutnya, kenaikan harga sejumlah komoditas masih relatif wajar. 

"Karena kenaikannya masih di rentang wajar. suplainya cukup, pembelinya juga biasa saja," tutur Yana. 

"Upayanya kalau ini memang pasokannya naik. Kelihatannya momentum Ramadan," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Bandung, Elly Wasliah mengungkapkan, berdasarkan pantauan per Selasa 13 April 2021, stok kebutuhan pokok masyarakat dalam kondisi aman tersedia.

"Semua kondisi aman tersedia, tapi harga ada beberapa yang mengalami kenaikan. Ini memang fenomena 'munggahan' atau menjelang Ramadan," ungkapnya.

Sejumlah komoditas yang mengalami kenaikan di antaranya, daging sapi dari Rp12.000 per kilogram menjadi Rp130.000 per kilogram. Minyak curah dari Rp12.500 menjadi Rp13.000 per liter.

Namun cabai rawit turun dari Rp120.000 menjadi Rp80.000 per kilogram

"Ini dikarenakan beberapa produsen cabai panen raya," terangnya.

Bank Bjb Sepakati Kerjasama dengan UPI untuk Peningkatan Mutu Pendidikan


BANDUNG, SIBER --
Bank bjb dan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) sepakat melakukan kerja sama yang ditandai dengan penandatangan Nota Kesepahaman (MoU) tentang Dukungan Penyelenggaraan Pendidikan dan Pemanfaatan Produk dan Jasa Perbankan. Nota kesepahaman ini ditandatangani langsung oleh Rektor UPI Prof. Dr. H. M. Solehuddin, M.Pd., M.A. dan Direktur Utama bank bjb Yuddy Renaldi di Ruang Pandan & Puspa Parahyangan Golf Padalarang pada Senin 12 April 2021. Turut hadir Direktur Komersial dan UMKM bank bjb Nancy Adistyasari serta jajaran manajemen bank bjb serta UPI.

Kerja sama yang tertuang dalam nota kesepahaman tersebut antara lain menyangkut funding, lending, transaksi, yaitu sarana layanan perbankan yang membantu dan memudahkan nasabah dalam melakukan transaksi perbankan, meliputi : Pemasangan Automatic Teller Machine (ATM), Penggunaan Layanan Informasi Keuangan Perbankan, Payroll Service, Sistem Pembayaran dan penerimaan yang terintegrasi misalnya host to host (H2H), dan Jasa layanan Perbankan lainnya.

Pemimpin Divisi Corporate Secretary bank bjb, Widi Hartoto, mengatakan bank bjb sangat menaruh perhatian pada keberlangsungan pendidikan tinggi khususnya di wilayah Jawa Barat. Dia mengatakan lebih lanjut, kerja sama ini tidak berfokus pada layanan keuangan saja tetapi juga melahirkan proses transfer ilmu pengetahuan atau produk jasa, antara pihak kampus dengan bank.

“Kerja sama ini diharapkan dapat saling melengkapi kebutuhan UPI dan bank bjb bukan dalam layanan perbankan saja, tapi lebih dari itu dapat dikembangkan untuk kesejahteraan dosen dan pegawai civitas akademis UPI serta pemberdayaan mahasiswa untuk melahirkan bisnis-bisnis baru,” katanya.

Pada waktu bersamaan, dilakukan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara bank bjb Kantor Cabang Sukajadi dengan UPI terkait pemanfaatan produk, jasa dan layanan perbankan.  PKS ditandatangani oleh Wakil rektor bidang riset, internasional, kerjasama dan usaha Prof. Dr. H. Adang Suherman, M.A dan Taupan Selamat Wibawa Pemimpin bank bjb Kantor Cabang Sukajadi.

Sebelum kesepakatan ini, UPI telah menjalin beberapa kerja sama dengan bank bjb. Di antaranya melalui Kantor Cabang Sukajadi, bank bjb menyalurkan Kredit Guna Bhakti bagi karyawan dan dosen UPI. 

Selain itu, bank bjb telah membuka Kantor Kas di kompleks kampus UPI. Kantor yang diresmikan tahun 2018 ini bertempat di Gedung Dormitory UPI.

UPI adalah perguruan tinggi negeri yang kampus utamanya berada di Kota Bandung. Sejak tahun 2012, UPI berstatus sebagai perguruan tinggi yang diselenggarakan pemerintah, berubah dari status sebelumnya sebagai perguruan tinggi Badan Hukum Milik Negara (BHMN).

Perguruan tinggi yang menganut sistem multikampus ini memiliki enam kampus yang tersebar di dua provinsi yaitu Jawa Barat dan Banten. Kampus utama UPI berlokasi di Jalan Setiabudhi 229, Bandung. Sedangkan kampus lainnya berlokasi di Cibiru, Tasikmalaya, Sumedang, Purwakarta, dan Serang. *

Olahraga

Mancanegara

Top 5

 
Copyright © 2016 www.sisiberita.com | Mengupas Tuntas, Akurat Menyajikan Sisi Berita
Design by FBTemplates | BTT