BANDUNG – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung terus memperkuat upaya memperluas lapangan kerja melalui peningkatan investasi, perbaikan iklim usaha, dan penguatan keterampilan tenaga kerja di tengah tantangan ketenagakerjaan di Jawa Barat.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, kondisi ketenagakerjaan saat ini membutuhkan perhatian serius, terutama setelah sejumlah perusahaan manufaktur menghentikan operasionalnya sehingga berkontribusi terhadap terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) di Jawa Barat.
“Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah PHK tertinggi di Indonesia karena banyak industri manufaktur yang tutup,” ujar Farhan, Kamis, 15 Oktober 2026.
Di sisi lain, Farhan melihat pertumbuhan sektor informal, termasuk pekerjaan berbasis digital dan ekonomi gig (gig economy), sebagai peluang baru bagi masyarakat. Namun, perkembangan tersebut tidak mengurangi pentingnya ketersediaan lapangan kerja formal.
“Kita tidak bisa berdiam diri. Lapangan kerja formal tetap dibutuhkan karena menawarkan kualitas pekerjaan yang lebih baik,” katanya.
Menurut Farhan, penciptaan lapangan kerja formal membutuhkan iklim usaha yang mendukung investasi. Kemudahan berusaha dan kepastian hukum diharapkan dapat mendorong investor menanamkan modal di Kota Bandung maupun wilayah Jawa Barat secara lebih luas.
“Dengan kemudahan berusaha dan kepastian hukum, kita berharap investor terdorong untuk berinvestasi di Bandung dan Jawa Barat sehingga dapat menciptakan beragam lapangan kerja,” ujarnya.
Farhan juga menekankan pentingnya mempersiapkan tenaga kerja agar sesuai dengan kebutuhan industri. Sistem pendidikan dan pelatihan perlu membekali lulusan dengan kompetensi teknis serta keterampilan nonteknis (soft skills) yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
Selain mendorong penciptaan lapangan kerja di dalam negeri, Pemkot Bandung menjajaki kerja sama internasional untuk memperluas kesempatan kerja bagi tenaga kerja asal Bandung. Salah satunya melalui koordinasi dengan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) serta penjajakan potensi kerja sama melalui hubungan kota kembar (sister city) dengan Hamamatsu, Jepang.
Inisiatif tersebut diharapkan dapat membuka peluang bagi tenaga kerja asal Bandung untuk bekerja di Jepang. Upaya ini dapat didukung pelatihan dari kementerian terkait, sementara Pemkot Bandung berperan mempersiapkan sumber daya manusia agar memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan.
“Peluang-peluang inilah yang terus kita buka, selain melalui bursa kerja yang diselenggarakan secara langsung maupun daring,” kata Farhan.
Melalui promosi investasi, pengembangan kompetensi tenaga kerja, kerja sama internasional, serta penyelenggaraan bursa kerja secara luring dan daring, Pemkot Bandung berupaya memperluas akses masyarakat terhadap lapangan kerja sekaligus meningkatkan kesiapan tenaga kerja menghadapi kebutuhan dunia usaha di dalam maupun luar negeri.