Headline News

18 Agustus 2026

Sukamiskin Bangun Ekosistem Pengelolaan Sampah, 70 Persen Timbulan Diolah di Tingkat Kelurahan

Sukamiskin.jpeg

BANDUNG, SIBER – Kelurahan Sukamiskin, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung, terus mengembangkan pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Sistem tersebut dibangun dari tingkat rumah tangga hingga kelurahan dengan melibatkan RT, RW, dan berbagai unsur masyarakat.

Beragam metode pengolahan diterapkan, mulai dari pemilahan sampah di rumah, pengolahan sampah organik menggunakan maggot dan komposter, hingga pemanfaatan sampah nonorganik menjadi bahan bakar alternatif berupa briket.

Lurah Sukamiskin Sofian Ismail mengatakan, pengelolaan sampah dilakukan secara bertahap dengan mendorong masyarakat memilah sampah sejak dari sumbernya.

Saat ini, sekitar 500 rumah tangga telah mendapatkan sosialisasi mengenai pemilahan sampah organik, nonorganik, dan residu. Dari jumlah tersebut, sekitar 250 rumah tangga mulai melakukan pemilahan dan pengolahan secara mandiri.

“Jadi kita sudah melakukan sosialisasi dan edukasi untuk pemilahan sampah organik, nonorganik dan residu. Sekitar 500 rumah tangga sudah mendapatkan sosialisasi, dan sekitar 250 rumah tangga sudah mulai memilah dan mengolah,” ujar Sofian kepada Humas Kota Bandung.

Salah satu fasilitas yang dikembangkan adalah budidaya maggot untuk mengolah sampah organik. Saat ini, kapasitas pengolahannya mencapai sekitar 400-500 kilogram sampah per hari.

Kapasitas tersebut ditargetkan meningkat hingga satu ton per hari. Namun, Sofian menyebut kemampuan pengolahan maggot turut dipengaruhi kondisi lingkungan.

“Maggot kapasitasnya sekitar 400 sampai 500 kilogram sehari. Targetnya satu ton, tetapi karena maggot merupakan makhluk hidup, tentu dipengaruhi suhu dan faktor lainnya,” katanya.

Pengolahan sampah organik juga didukung fasilitas komposter yang tersedia di setiap RW. Dari 17 RW di Sukamiskin, masing-masing memiliki sedikitnya dua unit tempat pengolahan berbasis komposter. Beberapa RW bahkan memiliki hingga lima unit.

Fasilitas tersebut memungkinkan sampah organik diolah langsung di lingkungan warga tanpa harus dibawa ke tempat pembuangan sementara (TPS).

Sofian menargetkan seluruh rumah tangga di Sukamiskin dapat memilah sampah dari sumbernya.

“Target kita 100 persen melakukan pemilahan dari sumber. Minimal 50 persen rumah tangga sudah memilah dan mengolah sampah sendiri di rumah,” ujarnya.

Sukamiskin juga mengembangkan pengolahan sampah nonorganik melalui metode peyeumisasi sampah. Saat ini tersedia enam unit mesin yang digunakan untuk mengolah sampah nonorganik menjadi briket.

Proses pengolahan diawali dengan memasukkan sampah nonorganik ke wadah pengolahan. Sampah kemudian ditumpuk secara bertahap dengan ketebalan sekitar 20 sentimeter dan diberikan bioaktivator hingga ketinggian tumpukan mencapai sekitar 1,2 meter.

Setelah dikeringkan selama sedikitnya tujuh hari, sampah digiling melalui beberapa tahap. Material kemudian dicampur dengan bahan perekat berupa tepung kanji sebelum dicetak menjadi briket.

“Setelah kering, sampah digiling. Ada mesin penggiling kasar, penggiling halus, kemudian dicampur dengan kanji supaya ketika dicetak bisa menyatu dan tidak mudah pecah,” jelas Sofian.

Jika seluruh fasilitas beroperasi optimal, kapasitas pengolahan sampah non organik tersebut diproyeksikan mencapai enam ton per hari.

Pengembangan produksi briket juga akan diperluas ke tingkat RW. RW 13 telah menyiapkan lahan sekitar 200 meter persegi untuk produksi, penjemuran, dan penyimpanan.

Briket yang dihasilkan nantinya akan dikumpulkan dan dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan industri, termasuk pabrik semen, pabrik genteng di Majalengka, dan industri tekstil.

Kelurahan Sukamiskin juga disiapkan menjadi laboratorium pengelolaan sampah. Tempat tersebut nantinya dapat menjadi lokasi pembelajaran bagi komunitas, RT, RW, lembaga swadaya masyarakat, maupun daerah lain yang ingin melakukan studi tiru.

“Kelurahan ini kita targetkan menjadi laboratorium pengelolaan sampah. Kita sudah menyiapkan tempat di lantai dua dengan kapasitas sekitar 20 orang untuk menerima tamu dan melakukan ekspos,” kata Sofian.

Selain pengolahan melalui maggot, komposter, dan peyeumisasi, Sukamiskin bekerja sama dengan Universitas Islam Bandung (Unisba) dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam pengembangan teknologi plasma dingin untuk mengolah sampah non organik.

Fasilitas plasma dingin sebelumnya mampu mengolah sekitar 1,5 ton sampah nonorganik per hari. Namun, mesin tersebut saat ini mengalami kendala dan masih menunggu komponen pengganti dari luar negeri.

Sofian berharap fasilitas tersebut dapat kembali beroperasi sehingga kapasitas pengolahan sampah di Sukamiskin semakin meningkat.

Timbulan sampah di Kelurahan Sukamiskin saat ini diperkirakan mencapai 4-6 ton per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 30 persen masih dibawa ke TPS, sementara sekitar 70 persen diarahkan untuk diolah melalui berbagai fasilitas yang tersedia.

Pengelolaan dari sumber juga diperkuat melalui Petugas Pemilah dan Pengolah Sampah (Gaslah). Sebanyak 17 petugas, masing-masing satu orang di setiap RW, membantu proses pengambilan dan pemilahan sampah.

“Kalau petugas Gaslah sekarang sekitar 17 orang, satu RW satu. Mereka memilah organik. Target dari DLH sekitar 25 kilogram sehari, dan itu sudah terlampaui. Ada yang 60 kilogram bahkan lebih dari 100 kilogram,” tutur Sofian.

Sampah yang dikumpulkan dari rumah warga dibawa ke titik Gaslah untuk dipilah. Sampah organik kemudian diarahkan ke fasilitas komposter atau maggot, sedangkan sampah non organik masuk ke proses pengolahan berikutnya.

Pengelolaan sampah di Sukamiskin tidak hanya berfokus pada pengurangan volume sampah, tetapi juga menghasilkan manfaat bagi masyarakat.

Sampah organik yang diolah melalui maggot menghasilkan kasgot atau bekas media maggot yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman. Pupuk tersebut digunakan untuk mendukung kebun pangan di lingkungan kelurahan.

Berbagai tanaman seperti bayam, pakcoy, kangkung, dan ubi ungu dibudidayakan serta dipanen secara berkala.

Ekosistem tersebut juga terhubung dengan peternakan ayam petelur. Saat ini, produksi telur mencapai sekitar 60-90 butir per hari.

Telur tersebut dimanfaatkan untuk mendukung pemenuhan gizi masyarakat, terutama ibu hamil, balita, serta warga dengan berat badan kurang.

“Telur yang dihasilkan sekitar 60 sampai 90 butir sehari. Itu dibagikan untuk ibu hamil dan balita, terutama yang kurus atau berat badannya kurang,” kata Sofian.

Rangkaian pengelolaan tersebut kemudian terintegrasi dalam Sirkulir Program Karasa (Sirkuler Bandung Utama), yang menghubungkan pemilahan sampah, pengolahan organik, budidaya maggot, produksi kompos, pertanian, hingga pemenuhan pangan dan gizi masyarakat.

Sofian mengatakan, ketersediaan lahan menjadi salah satu keunggulan Sukamiskin dalam mengembangkan ekosistem pengelolaan sampah. Dari sekitar 3.000 meter persegi lahan yang tersedia, baru sekitar 800 meter persegi yang digunakan untuk bangunan.

“Ekosistem ini menjadi kebanggaan Sukamiskin. Alhamdulillah, kita memiliki lahan yang cukup luas sehingga masih bisa dikembangkan,” ujarnya.

Ke depan, Sofian berharap seluruh fasilitas dapat beroperasi optimal. Dengan dukungan pemerintah provinsi dan berbagai pihak, fasilitas pengolahan baru ditargetkan mulai berjalan pada akhir 2026 atau paling lambat awal 2027.

“Kalau peyeumisasi sampah sudah berjalan dan plasma dingin kembali beroperasi, kita bahkan bisa menerima sampah dari kelurahan lain. Secara hitungan, kapasitas pengolahan kita bisa lebih besar dari timbulan sampah warga Sukamiskin,” pungkasnya.

Renungan ""

"Dan orang-orang yang apabila melakukan kejahatan atau mengianiaya dirinya sendiri, mereka lalu ingat kepada Allah, kemudian memohonkan pengampunan kerana dosa-dosa mereka itu. Siapakah lagi yang dapat mengampuni dosa-dosa itu selain Allah? Dan mereka tidak terus-menerus mengulangi perbuatan yang jahat itu, sedang mereka mengetahui." (QS. Ali-lmran: 135)
 
Copyright © 2016 www.sisiberita.com | Mengupas Tuntas, Akurat Menyajikan Sisi Berita
Design by FBTemplates | BTT